Teori Perilaku Kolektif
Teori Perilaku Kolektif
PENGERTIAN
PERILAKU KOLEKTIF
Ahli
sosiologi menggunakan istilah perilaku kolektif mengacu pada perilaku
sekelompok orang adalah suatu perilaku
yang tidak biasa , sehingga perilaku kolektif dapat diartikan sebagai suatu
tindakan yang relatif spontan, tidak terstruktur dan tidak stabil dari
sekelompok orang, yang bertujuan untuk menghilangkan rasa ketidakpuasan dan
kecemasan. Sehingga kita dapat membedakan antara perilaku kolektif dengan
perilaku yang rutin. Secara teoritis perilaku kolektif dapat dijelaskan dari
berbagai sudut teori antara lain teori penyebaran, teori interaksionis, teori
emergent-norm dan teori value-added. Kondisi pokok yang memicu munculnya
perilaku kolektif menurut teori value-added adalah: kesesuaian struktural,
ketegangan struktural, berkembangnya kepercayaan umum, faktor yang mendahului,
mobilisasi dan kontrol sosial.[1]
Menurut
Milgran dan Touch ialah suatu perilaku yang lahir secara spontan, relatif,
tidak terorganisasi serta hampir tidak bisa diduga sebelumnya, proses
kelanjutannya tidak terencana dan hanya tergantung pada stimulasi timbal balik
yang muncul dikalangan para pelakunya, dan senada pula dengan pendapat Robetson
.Dapat kami simpulkan dari definisi-definisi tersebut bahwa perilaku kolektif
adalah perilaku yang:
(1) Dilakukan
bersama oleh sejumlah orang
(2) Bersifat
spontanitas dan tidak terstruktur
(3) Tidak
bersifat rutin
(4) Merupakan
tanggapan terhadap rangsangan tertentu.
FAKTOR PENENTU
PERILAKU KOLEKTIF
Perilaku
kolektif bisa terjadi dimasyarakat mana saja, baik masyarakat yang sederhana
maupun yang kompleks. Menurut teori Le Bon perilaku kolektif dapan ditentukan
oleh 6 faktor berikut ini :
1. Situasi
social: Situasi yang menyangkut ada tidaknya pengaturan dalam instansi
tertentu.
2.Ketegangan
structural: Adanya perbedaan atau kesenjangan disuatu wilayah akan
menimbulkan ketegangan yang dapat menimbulkan bentrok ketidakpahaman
3.Berkembang
dan menyebarnya suatu kepercayaan umum: Misalnya : berkembangnya isu-isu
tentang pelecehan suatu agama atau penindasan suatu kelompok yang dapat
menyinggung kelompok lain
4.Factor
yang mendahului: Yakni factor-faktor penunjang kecemasan dan kecurigaan
yang dikandung masyarakat. Misalnya desas-desus isu kenaikan harga BBM, yang
diperkuat dengan pencabutan subsidi BBM, hal ini dapat memicu kuat sekelompok
orang untuk protes.
5. Mobilisasi
perilaku oleh pemimpin untuk bertindak: Perilaku kolektif akan terwujud
apabila khalayak ramai dikomando/dimobilisasikan oleh pimpinannya.
6.Berlangsungnya
suatu pengendalian social: Merupakan hal penentu yang dapat menghambat,
menunda bahkan mencegah ke 5 faktor diatas, misalnya : pengendalian polisi dan
aparat penegak hukum lainnya.
Dari keenam faktor
penentu tersebut merupakan suatu rangkaian yang dapat menyebebkan terjadinya
suatu perilaku kolektif.
Perilaku kolektif
adalah perilaku menyimpang namun berbeda dengan perilaku menyimpang karena
perilaku kolektif merupakan tindakan bersama oleh sejumlah besar orang, bukan
tindakan individu semata-mata. Bila seseorang melakukan pencurian di suatu
toko, maka hal ini termasuk suatu perilaku menyimpang, namun bila sejumlah
besar orang secara bersama-sama menyerbu toko-toko dan pusat-pusat perdagangan
untuk melakukan pencurian atau penjarahan (sebagaimana di sejumah kota di Pulau
Jawa pada tahun 1998 dan 1999), maka hal ini termasuk suatu perilaku kolektif.
Perilaku kolektif meliputi perilaku kerumunan (crowd) dan gerakan sosial (civil
society). Rangsangan yang memicu terjadinya perilaku kolektif bisa bersifat
benda, peristiwa maupun ide.
Macam – macam
perilaku kolektif
1.Kerumunan
(Crowd)
a.Casual Crowd,sekumpulan
orang yang berada diujung jalan dan tidak memiliki maksud apa apa.
b.Conventional
Crowd,sekelompok yang sedang mendengarkan ceramah
c.Expressive
Crowd,sekumpulan orang yang sedang menonton konser yang menari dan sesekali
menyanyikan lagu.
d.Acting Crowd, sekelompok massa yang melakukan tindakan kekerasan
2..MOB
Merupakan
sebuah kerumunan (crowd) yang emosional dan cenderung sering melakukan sebuah
tindakan yang anarki,kekerasan dan menyimpang.Pada umumnya mereka melakukan
tindakan untuk melawan tekanan sosial yang ada secara langsung dan hal ini
muncul karena terdapatnya rasa ketidakadilan serta adanya perasaan dicederai
oleh institusi yang telah mapan atau lebih tinggi.
3.Panic
Panic
merupakan sebuah bentuk perilaku kolektif yang tindakannya merupakan reaksi
terhadap ancaman yang muncul di dalam sebuah kelompok tersebut dan biasanya
berhubungan dengan kejadian kejadian bencana (disaster). Tindakan reaksi massa
ini cenderung terjadi di awal suatu kejadian dan hal ini tidak terjadi ketika
mereka mulai tenang.Bentuk lebih parah dari kejadian panic ini adalah Histeria
Massa,pada hysteria massa ini terjadi kecemasan yang berlebihan dalam
masyarakat.misalnya muncul isu tsunami ataupun banjir.[2]
4.Opini
Publik
Merupakan
sekelompok orang yang mempunyai pendapat atau asumsi yang berbeda mengenai
suatu hal dalam masyarakat. Dalam opini public ini antara kelompok masyarakat
yang terjadi perbedaan pandangan atau perspektif.Konflik bisa sangat
berpotensial terjadi pada masyarakat yang kurang memhamai akan masalah yang
menjadi interes dalam masyarakat tersebut.Contohnya,adanya perbedaan pandangan
antar masyarakat tentang pemilu,penetapan undang-undang tertentu dan
sebagainya.
Alternative
Movement,merupakan gerakn yang bertujuan mengubah sebagian perilaku
perorangan seperri kampanye agar tidsk merokok,hubungan seksual dan lain
sebagainya.
Redemtive
Movement,gerakan untuk merubah pada perilaku perorangan,khususnya di bidang
agama seperti gerakan untuk tobat dan hidup sesuai dengan syariat agama.
Revormative
movement,gerakan untuk merubah masyarakat dalam bidang tertentu seperti
gerakan kaum homoseksual untuk memperoleh pengakua terhadap gaya hidup mereka.
Trasformative, yaitu gerakan untuk memberika perubahan pada masyarakat secara keseluruhan seperti gerakan kaum komunis untuk menciptakan kaum atau masyarakat komunis.
GERAKAN SOSIAL
Gerakan
sosial atau disebut juga dengan Social Movement ini merupakan aktivitas sosial
berupa gerakan sejenis tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal
yang berbentuk organisasi, berjumlah besar atau individu yang secara spesifik
berfokus pada suatu isu-isu sosial atau politik dengan melaksanakan, menolak,
atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial.
Teori
gerakan sosial tidak dapat dilepaskan dari serangkaian revolusi yang terjadi di
Eropa Barat yang terjadi sekitar abad ke 17 sampai abad ke 19 karena realitas
sosial baru. Dalam buku Abdul Wahib Situmorang, Gerakan Sosial: Teori dan Praktik.
Comte, Durkheim dan beberapa pengikut utama mereka lainya berkeinginan
menemukan tatanan baru yang dapat menciptakan keteraturan di masyarakat. Kelompok
ini tidak menghendaki transformasi sosial dilakukan secara radikal dan
cenderung anti terhadap perubahan yang dapat menimbulkan ketidakpastian. Pemikiran Comte dan Durkheim yang lebih dikenal dengan teori fungsionalnya,
kelak menjadi rujukan utama para pelopor teori perilaku kolektif.[3]
Teori yang melandasi gerakan sosial atau teori perilaku massa
(Crowd Behavior Theory)
Terdapat 3
teori yang menjelaskan tentang bagaimana perilaku manusia yang berada dalam
sebuah kerumunan atau di dalam sebuah massa
1.Teori
Penularan ( Contagion Theory)
Teori ini menjelaskan bahwa ketika
seseorang individu terlibat dalam sebuah kerumunan maka itu akan membuat
seorang individu tersebut sudah tidak rasional,dan akan mengikuti
situasi,tindakan,perilaku yang terdapat pada lingkungan kerumunan
tersebut,Contoh orang yang sedang melihat sebuah konser musik dan terlibat
dalam sebuah kerumunan tersebut maka individu tersebut akan terpengaruhi oleh
susasana atau tindakan yang terjadi dalam sebuah kerumunan itu tanpa sadar atau
bisa disebut sebuah tindakan irrasional.Tindakan irrasional ini menurut teori
penularan ini yaitu sebuah situasi yang bersifat sirkulan atau sebuah situasi
yang beredar dan menular ke yang lain.
2.Teori
Konvergensi
Teori ini
menjelaskan bahwa sesungguhnya perilaku sebuah kerumunanan atau banyak orang
berangkat dalam sebuah kesepakatan dan bukan secara spontan. Jadi, teori ini menjelaskan
bahwasanya orang yang tergabung dalam sebuah kerumunan itu sesungguhnya sudah
memiliki satu kesamaan pemikiran sebelum ia bergabung dalam sebuah kerumunan
itu tadi.Contohnya adalah para mahasiswa yang sedang melakukan sebuah protes di
sebuah kampus yang biasanya memprotes terhadap pemecatan seorang professor
misalnya maka para mahasiswa yang tergabung dalam sebuah kegiatan pemrotesan
tersebut sebelumnya telah mempunya kesamaan pemikiran tentang apa yang ingin di
protes oleh mereka. Biasanya dalam teori ini memiliki beberapa hal kesamaan
semisal umur,pemikiran dan pemahaman dalam sebuah kasus,jadi mereka berangkat
dari sebuah pemahaman yang sama lalu terlibat dalam sebuah kerumunan yang
memiliki sebuah pandangan yang sama dengan individu tersebut.
3.Teori
Kemunculan Norma
Teori ini juga
memberikan tambahan penjelasan dari teori pertama dan kedua, bahwa meskipun
seseorang datang dengan pemahaman yang sama dalam sebuah kerumunan,kemudian
akan memunculkan tindakan baru yang melahirkan sebuah norma yang baru dan
diikuti oleh semua orang yang terlibat dalam lingkungan tersebut.
teori perilaku
kolektif ini berawal pada abad 20 dan menjadi teori awal dari gerakan
sosial,teori ini diterbitkan oleh dua kubuh tokoh harben blumer dan nels
melson.dua tokoh ini sebenarnya memiliki tradisi keilmuan yang berbeda,harben
blummer memiliki paradigm interaksionis simbolik sementara nels melson memiliki
perspektif struktur fungsional dan kedua pemikir ini memiliki pandangan kritis
satu sama lain. Jadi, pada dasarnya blumer dan nels melson tidak disatukan oleh
pandangan mereka terhadap fenomena gerakan sosial akan tetapi mereka disatukan
oleh minatnya sendiri untuk kajian perilaku kolektif.
Pemkir pemikir
atau beberapa para ahli walaupun memiliki sebuah sudut pandang yang berbeda,tetapi
mereka memiliki benang merah serta mereka berkeyakinan bahwasanya sosial
problem akan memunculkan penderitaan psikologis,dan permasalahan psikologis ini
akan memicu terjadinya emosional dikalangan individu atau dikalangan masyarakat
sehingga dapat menimbulkan sebuah aksi aksi pemprotesan dijalan jalan.[4] Didalam
membahas teori sosial setidaknya kita membahas 4 komponen yaitu:
1.Tokoh atau
para ahli
2.Tradisi
keilmuan sang tokoh
3.Konsep kunci
dari teori
4.Asumsi-asumsi
atau pernyataan yang dianggap benar
a.Harben
Blummer
Harben Blummer
adalah seorang tokoh yang merupakan sebuah anggota dari Chicago school atau sebuah
kelompok ilmuwan sosal yang memiliki sebuah pandangan interaksi simbolik,Harben
Blummer juga berkerja di University Chicago dan bekerja sama dengan gurunya
yaitu Robert Park,dan disitu Blummer mengembangkan teori kolektif ini dan
megaskan dan memperkuat posisi teori kolektif di kajian kajian ilmu sosial di
universitas Chicago.Harben Blummer dan Robert Park mereka meyakini bahwa kehidupan
sosial diibaratkan dengan perilaku kolektif, karena pada dasarnya kehidupan
sosial adalah interaksi antara satu orang dengan orang lain didalam
keluarga,kelompok,komunitas.Blummer dan Park memberikan perhatian kepada
interaksi ini ,karena dari interaksi ini sebuah kelompok mampu membangun dan melestarikan norma sosial
yang mengatur orang-orang yang berada didalam kelompok sosial tersebut. Namun
demikian didalam sebuah kelompok terdapat individu-individu yang mengikuti
ketentuan norma yang berlaku atau disebut dengan rules conforming tetapi juga
ada invidu yang menentang norma yang berlaku atau bisa disebut dengan rule
breaking,teori perilaku kolektif memfokuskan pada kelompok yang mennetang norma
sosial yang matang tersebut dengan berperilaku dengan cara yang tidak
biasa,bagi blummer orang orang yang menentang norma norma sosial yang matang
inilah yang menjadi pembuat aturan atau
norma sosial yang baru atau rule maker,munculnya rule maker yang membuat
perubahan.Sebagai contohnya norma sosial kita dahulu mengganggap peran dan
tanggungjawab perempuan itu adalah melayani laki laki,namun dengan adanya
kelompok perempuan yang menentang itu memunculkan norma sosial yang baru yang
pada akhirnya terdapat hal tentang kesetaraan gender. Pada awalnya sikap dari
perempuan yang menentang ini merupakan sebuah hal yang tidak wajar dan
betentangan dengan tradisi serta hukum norma yang ada,tetapi seiring
berjalannya waktu semua telah berubah dan menyetujui dengan ada persepsi
seperti itu.
b.Konsep
konsep kunci
1.Masalah
sosial
Bagi
blummer kondisi kemiskinan atau kesulitan hidup lainnya,bukanlah sebuah masalah
sosial terkecuali seseorang itu mengambil sudut pandang bahwasanya itu adalah
masalah sosial.Oleh sebab itu masalah sosial bagi Blummer sangat bergantung pada
interpretasi atau definisi seseorang atas masalah yang mereka hadapi.Konsep
kunci dari teori perilaku kolektif menurut Harben Blummer,keluhan atau perilaku
atas ketidakadilan. Situasi ini terjadi ketika kehidupan normal seseorang itu
terganggu,kemudian manusia itu tidak menemukan ketentuan norma sosial yang
tertentu.Munculnya sebuah perasaan atau keluhan ketidak adilan disebabkan oleh
beberapa hal yaitu:
a.Deprifacetion
(adanya perampasan) semisal perampasan hak politik,kemiskinan atau ketika
harapan kita hancur atau sirna.Seseorang juga mengalami deprifacetion ketika
misalnya mengalami kesulitan ekonomi atau penggangguran.
b.Marjinalisation
(Adanya peminggiran)
Keadaan
sesorang yang terisolasi atau terpinggirkan dari institusi sosial,orang-orang
yang mengalami marjinalisasi ketika terputusnya sebuah hubungan atau ikatan
dengan orang-orang disekitar atau diruanglingkup individu tersebut.
2.Agitasi
dan Agitator
Agitasi adalah
proses mempengaruhi persepsi orang tentang kehidupan sosial mereka,sedangkan
Agitator adalah orang yang mempengaruhi
persepsi orang tentang kondisi sosial yang penuh penderitaan sebagai masalah sosial. Agitasi dan agitator ini
menjadi relevan dalam pandangan Harben Blummer ketika masalaha sosial itu
tergantung pada definsi seseorang, misalnya agitasi atau agitator itu penting
ketika dapat mempengaruhi kehidupan orang yang malang dan tidak
menginterpretasikan bahwasanya kemalangan hidupnya bukanlah masalah sosial.
3.Kekacauan
sosial
kekacauan
sosial terjadi ketika individu dalam masyarakat kehilangan pendirian,kehilangan
akal dan kepercayaan. Masalah ini terjadi ketika individu dalam masyarakat itu
mengalami internal attention atau ketegangan internal semisal stress yang
ditandai dengan kemarahan dan frustasi. Situasi ini membuat individu menjadi
tidak stabil secara psikologis dan memicu individu dapat melakukan sebuah hal
yang tidak terduga.Situasi individu ini menjadi stress,frustasi dan ketegangan
internal itu menular dari satu orang ke orang lain.[5]
4.Contaigan
(teori penularan)
Sebuah
situasi ketika seseorang berada dalam sebuah kelompok dan terperangkap pada
emosional kelompok yang sedang bermasalah,kelompok yang mengalami emosional dan
perasaan tidak aman dan mereka yang terperangkap dalam emosi kelompok mengalami
contaigan atau mengalami penularan kelompok ini,selain itu penularan dari satu
kelompok ini juga akan menular pada kelompok sosial lainnya dan biasa disebut
sosial unrest.
5.Circle
Reaction
Konsep ini
berkaitan dengan konsep penularan,yang dimaksud dengan konsep ini adalah respon
seseorang terhadap respon orang lain dengan cara meresponsif perasaan oranglain
tersebut.
6.Konsep
Crowd (Kerumunan)
Kerumunan
adalah ketika individu-individu dalam masyarakat atau didalam sebuah kelompok
kehilangan kemampuan berfikir dan kecndrungan individu mengikuti kawanan
daripada akal sehatnya.Crowd terjadi ketika individu berubah dari pribadi
rasional menjadi pribadi yang tidak dapat mengendalikan situasi,menilai dan
keadaan yang melingkupinya. Individu didalam kerumunan cenderung mengikuti
kawanan dan instingnya,Individu dalam kerumunan ini juga mengalami perubahan
disebabkan oleh perasaan serta pikiran telah tergantikan oleh pikiran dan
perasaan kelompok.
Asumsi
Ada beberapa
pernyataan yang dianggap benar oleh teori ini
1.Bentuk
kolektif baru yang berbeda dengan kolektif yang sudah mapan dapat muncul dalam
sebuah masyarakat.
2.Kondisi
sosial yang tidak menyenangkan dialami oleh seseorang misalnya
kemiskinan,perbudakan itu tidak semerta-merta membuat pemberontakan karena
kondisi itu tidak selalu didefinisikan masalah sebagai orang miskin atau budak.
3.Masalah
sosial
Akan muncul
seseorang yang mendefinisikan situasi atau kondisi yang mereka alami sebagai
sebuah masalah,didalam interaksinya dan dikehidupan sehari-hari.
4.Perasaan
diperlakukan tidak adil
Asumsi ini akan
menimbulkan sebuah guncangan atau kekacauan sosial,dan kekacauan sosial ini
akan membuat seseorang siap akan protes yang muncul dan sesuai dengan apa yang
ada dipemikiran individu tersebut.
Analisis berita
mengenai perilaku kolektif
Berita
ini adalah perihal penamburan 1000 bunga save KPK,yang dimana menunjukan
perilaku kolektif yang ditimbulkan oleh masyarakat. Pengertian perilaku
kolektif menurut Wils Jijun,perilaku kolektif merupakan sebuah perilaku yang
tidak tersusun bersifat spontan,emosional dan tidak terduga. Perilaku kolektif
ditimbulkan oleh beberapa faktor yaitu faktor dari luar dan faktor dari
kelompok.
Dalam kegiatan
1000 bunga save KPK,salah satu kegiatan perilaku kolektif yang disebabkan oleh
kelompok dan disini yang berperan dalam kelompok adalah dewan perwakilan
rakyat.Kenapa Dewan Perwakilan Rakyat?dikarenakan Dewan Perwakilan Rakyat
menyetujui tentang revisi undang undang KPK yang dapat melemahkan tugas
pemberantasan korupsi di Indonesia,ketika masyarakat tau DPR mengesahkan
perihal Undang undang KPK dan melemahkan tugas pemberantasan korupsi maka
masyarakat secara tidak langsung secara spontan langsung melakukan unjuk rasa
perihal keputusan yang tidak masuk akal dan sulit diterima oleh masyarakat.
[1] ‘Caridokumen’.
[2] J.W. Santrock, ‘Life Span Development (Perkembangan Masa Hidup Edisi 13
Jilid 1) (Penerjemah: Rachmawati Dan Kuswanti).’, 2012.
[3] B A B Ii, Universitas Gadjah, and Mada Berikut, ‘Bab Ii Kerangka Teori
2.1.’, 2014, 12–39.
[4] Joni Rusmanto, GERAKAN SOSIAL,
Sejarah Perkembangan Teori Antara Kekuatan Dan Kelemahan, 2012
<https://www.researchgate.net/publication/323238283_GERAKAN_SOSIAL_Sejarah_Perkembangan_Teori_antara_Kekuatan_dan_Kelemahan>.
[5] B A B Ii and Tinjauan Teori, ‘Andrianthy, N.2009.’
Komentar
Posting Komentar