Teori komunikasi

 

Teori Komunikasi

Teori merupakan sebuah sistem yang dimana memiliki konsep yang abstrak dan hubungan konsep tersebut sangat membantu kita untuk memahami atau mengerti akan sebuah fenomena. Sedangkan komunikasi sendiri merupakan pengiriman sebuah pesan atau informasi dari komunikator / sumber pesan kepada penerima uang akan menimbulkan efek.[1]

Pentingnya belajar teori komunikasi sebagai mahasiswa ilmu komunikasi kita harus keberadaan fenomena komunikasi yang ada dilingkungan sekitar kita dengan mempergunakan perspektif atau cara sudut pandang komunikasi. Salah satu cara untuk mengkategorisasikan teori bisa dengan memahami atau mempelajari beberapa sifat dan karakteristik teori berikut:

1.      Tingkat generalitas

    Dalam tingkat generalitas terdapat 3 pengartian atau komponen yaitu Grand Theory yang berutujuan untuk menjelaskan mengenai semua perilaku komunikasi dengan cara yang benar secara universal seperti contohnya adalah teori interaksi simbolik. Lalu,Mid-Range Theory teori dalam arti menegah yang dimana teori ini berusaha untuk menjelaskan perilaku komunikasi segerombolan atau sekelompok orang berdasarkan konteks,waktu,tipe perilaku komunikasi seperti contohnya teori groupthink,teori negosisasi muka.Kemudian terdapat Narrow Theory,teori sempit yang berusaha untuk menjelaskan suatu aspek yang terbatas dari suatu fenomena komunikasi seperti teori penetrasi sosial.

2.      Komponen

Dalam komponen teori komunikasi juga memiliki dua komponen diantaranya adalah konsep dan hubungan.

Konsep merupakan elemen yang cukup penting dalam sebuah teori,konsep memiliki dua macam yaitu konsep nominal yang dimana konsep ini tidak dapat diamati secara langsung dan konsep nyata yaitu konsep yang dapat diamati.

3.      Tujuan

Sebagai mahasiswa ilmu komunikasi, kita harus tahu tentang keberadaan fenomena komunikasi dan melihatnya dengan cara pandang komunikasi. Ada sebuah kutipan yang mengatakan “if you don’t know communication you don’t know anything”.

Pengantar Teori Komunikasi

Teori adalah sekumpulan konstruks yang saling kait mengait dalam menjelaskan sebuah fenomena. Komunikasi sendiri adalah pengiriman pesan dari komunikator/sumber pesan kepada penerima yang akan menimbulkan efek.

Komunikasi menjadi peranan terpenting bagi kehidupan manusia dalam berinteraksi di kehidupannya sehari- hari. Terutama komunikasi yang terjadi didalam masyarakat terkecil yaitu keluarga, Istilah komunikasi dalam bahasa inggris “communication”, dari bahasa latin “communicatus” yang memounyai arti berbagi atau menjadi milik bersama, komunikasi diartikan sebagai proses sharing diantara pihak- pihak yang melakukan aktifitas komunikasi tersebut. Namun, terkadang masih banyak orang yang sulit dalam mendefinisikan perihal pengertian komunikasi yang dikarenakan setiap orang dapat mendefinisikan komunikasi sesuai dengan pemahamanya,semisal bagi seorang yang bekerja didunia politik menurutnya komunikasi itu ketika sebuah power dapat dibagikan itulah komunikasi.[2]

Komunikasi bersifat multi disiplin dipengaruhi oleh sosiologi, psikologi, sosiologi, antropologi, sastra, politik, dll. Maka dari itu apabila kita memelajari komunikasi kita harus memelajari ilmu ilmu lain.

Cara Memelajari Teori Komunikasi

1.         Pahami terlebih dahulu apakah teori tersebut berada di tingkatan konstruks

2.         Mengetahui level fenomena yang diamati (komunikasi massa, komunikasi interpersonal, komunikasi organisasi, komunikasi kelompok). Teori komunikasi memeliki ranah masing2 tidak bisa dicampur campur.

3.         Memahami peta teori pada masing-masing level komunikasi

 

 

Teori Komunikasi Massa

[3]Komunikasi massa menghubungkan antara media dengan 2 kajian, yakni kajian makro yaitu sistem sosial budaya dan kajian mikro yaitu khalayak.

Teori tentang media :

1.         Teori Semiotika : Bagaimana mengamati isi media tentang adanya symbol dan pemaknaan di dalamnya

2.         Teori The Medium is The Massage : memelajari tentang karakteristik suatu media akan menonjolkan pesan pesan yang dibuat

Teori tentang kajian mikro (khalayak) :

1.         Teori Jaringan Komunikasi

2.         Teori Difusi Innovasi : Teori Difusi Inovasi pada dasarnya menjelaskan proses bagaimana suatu inovasi disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial.

3.         Teori Peluru : Teori peluru atau jarum hipodermik mengansumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa. Teori ini mengansumsikan bahwa seorang komunikator dapat menembakkan peluru komunikasi yang begitu ajaib kepada khalayak yang tidak berdaya (pasif)

4.         Teori Two Step Flow Communication : Teori two-step flow atau teori komunikasi dua tahap atau model komunikasi dua tahap yang digagas oleh Paul F. Lazarsfeld, Bernard Berelson, dan Hazel Gaudet ini berpendapat bahwa efek media massa bersifat tidak langsung dan dibentuk oleh pengaruh pribadi pemuka pendapat.

5.         Teori Uses and Gratification : Teori uses and gratifications sejatinya adalah teori yang lebih menitikberatkan pada motivasi penggunaan oleh khalayak dibandingkan dengan efek media massa pada khalayak.

6.         Teori Agenda Setting : Teori agenda setting yang digagas oleh M.E. McCombs dan D.L. Shaw ini menggambarkan bagaimana media massa mempengaruhi persepsi khalayak tentang apa yang dianggap penting.

7.         Teori Dependensi : teori ini memprediksikan, khalayak tergantung pada informasi yang berasal dari mediamassa dalam rangka  memenuhi kebutuhan khalayak bersangkutan serta mencapai tujuan tertentu dari proses konsumsi media massa

8.         Teori Multi Step of Communication : Teori ini menyebutkan,sebagian  besar  orang  menerima efek media dari tangan kedua, yaitu opinion leaders yang memiliki akses terlebih dahulu terhadap media massa. Akibatnya, hasil komunikasi antarpersona lebih menonjol  dibandingkan dengan terpaan media massa, karena orang-orang yang berasal dari kelas yang berbedaakan membuat interpretasi yang berbeda pula terhadap media atau pesan yang diterima.

Teori tentang kajian makro (sistem sosial budaya) :

1.         Teori Kultivasi : Teori kultivasi atau dikenal juga dengan analisis kultivasi adalah salah satu ranah peneltian komunikasi yang menyelidiki hubungan antara terpaan televisi dan sikap serta kepercayaan khalayak tentang dunia sekitarnya.

2.         Teori Spiral of Silence : Sebuah teori media yang lebih memberikan perhatian pada pandangan mayoritas dan menekan pandangan minoritas. Mereka yang berada di pihak minoritas cenderung kurang tegas dalam mengemukakan pandangannya.

Bisa kita simpulkan apabila komunikasi sendiri ini bersifat multi disiplin yang terpengaruhi oleh sosiologi,antropologi,psikologi,sastra,politik,matematika dll.

Teori Komunikasi Massa

Teori komunikasi massa sering sekali dan banyak muncul fenomena komunikasi dengan menggunakan media massa,baik media massa konvensional maupun media massa baru. Defenisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner yakni “komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah orang besar”. Sedangkan defenisi komunikasi massa yang lebih rinci dikemukakan oleh ahli komunikasi yakni Gerbner “kommunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontiniu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industry.

 

 

Karakteristik Komunikasi Massa

 [4]Karakteristik komunikasi massa dibatasi pada lima jenis media massa yang dikenal sebagai The Big Five of Mass Media. Media massa ini terdiri dari koran, majalah, radio, televisi, dan film. Karakteristik komunikasi massa secara konsepsional adalah :

a. Komunikasi media massa diperuntukkan bagi khalayak luas, heterogen dan tersebar, serta tidak mengenal batas geografis kultural.

b. Bentuk kegiatan komunikasi melalui media massa bersifat umum

c. Penyampaian pesan melalui media massa cenderung berjalan satu arah.

d. Kegiatan komunikasi melalui media massa dilakukan secara terencana, terjadwal, dan terorganisasi.

TEORI S-O-R

Teori Stimulus Organism Response (Teori SOR)

Pendahuluan Teori

Teori SOR ini dikembangkan oleh Houland pada tahun 1953. Ilmu ini muncul dikarenakan akibat adanya pengaruh dari ilmu psikologi dalam kajian ilmu komunikasi. Mengapa? Karena ilmu psikologi dan ilmu komunikasi memiliki kajian yang sama seperti sikap, opini, perilaku, kognisi dan afeksi.

Jadi unsur model ini adalah :

d. Pesan (Stimulus,S)

e. Komunikan (Organism,O)

f. Efek (Response, R)

Asumsi Dasar Teori

Asumsi dasar dari teori ini adalah penyebab terjadinya perubahan perilaku dalam masyarakat bergantung pada kualitas stimulus atau rangsangan yang berkomunikasi pada organisme tersebut. Oleh karena ini, sebuah perubahan tidak daapt dilakukan tanpa adanya bantuan dari luar meskipun kita sebagai masyarakat menginginkan yang namanya perubahan. Teori ini cocok diaplikasikan pada masyarakat seperti penyuluhan atau penyadaran suatu isu. Menurut teori ini, proses perubahan sikap serupa dengan proses belajar individu yang mana pesan sebagai stimulus dan komunikator serta komunikan sebagai organisme[5]. Stimulus ini bisa ditolak atau diterima oleh komunikan. Apabila ditolak, maka stimulus ini kurang efektif untuk digunakan untuk memengaruhi komunikan. Sebaliknya apabila stimulus ini diterima, maka komunikan akan mengolah data stimulus tadi menjadi suatu tindakan atau proses perubahan sikap seperti stimulus yang dia dapat tadi.[6]

Simpulan Teori

Teori Stimulus Organism Response (SOR) dijelaskan sebagai berikut stimulus yang artinya pesan atau rangsangan yang akan kita berikan kepada organisme atau komunikan dan juga response yaitu efek atau respon yang kita harapkan terjadi pada komunikan tersebut. Contoh kasus, menggunakan teori SOR ini untuk memberikan awareness tentang selflove kepada remaja wanita. Stimulus nya adalah kesadaran tentang selflove dengan organisme yaitu remaja perempuan dan response adalah kita menginginkan remaja wanita untuk mencintai dirinya sendiri. Teori ini banyak digunakan di berbagai bidang, baik bisnis, politik, sosial, dll. Karena tujuan dari teori ini adalah untuk merubah sikap dari suatu individu atau kelompok.

Teori Komunikasi Kontemporer

Teori Cultural Studies

Sejarah Teori

Cultural studies ini pertama kali muncul di tengah semangat Neo-Marxisme yang berupaya meredefinisikan marxisme sebagai perlawanan terhadap dominasi dan hegemoni budaya tertentu. Teori ini berawal dari gagasan Karl Max yang memiliki pandangan bahwa kapitalisme telah menciptakan kelompok elite kuasa untuk mengeksploitasi kelompok yang tidak berkuasa atau lemah. Hal ini menyebabkan, kelompok yang lemah tidak memiliki kontrol terhadap masa depan mereka. Hal ini juga yang mendasari Richard Hoggard dan Raymond William untuk mendirikan sebuah institusi yaitu CCCS atau The Birmingham Centre for Contemporary Cultural Studies. Para pendiri CCCS ini memiliki latar belakang yang sama, sehingga mereka memiliki cara pandang yang sama. Hal ini menimbulkan munculnya perlawanan terhadap budaya adi lubung yang dikontraskan dengan budaya jelata. Para pendiri cultural studies memiliki latar belakang pendidikan Sastra, dapat ditilik dari perkembangan paham strukturalisme dalam kritik-kritik Sastra yang berkembang pesat di Eropa pada masa itu. Cultural Studies adalah studi kebudayaan atas praktik signifikasi representasi, dengan mengeksplorasi pembentukan makna pada beragam konteks.

Berikut ini adalah karakteristik cultural studies menurut Sardar dan Van Loon. Cultural [7]studies mengkaji berbagai kebudayaan dan praktik budaya serta kaitannya dengan kekuasaan. Tujuannya adalah mengungkapkan hubungan kekuasaan serta mengkaji bagaimana hubungan tersebut memengaruhi berbagai bentuk kebudayaan (sosial-politik, ekonomi, ilmu pengetahuan, hukum dan lain-lain). Cultural studies tidak hanya merupakan studi tentang budaya yang merupakan entitas tersendiri yang terpisah dari konteks sosial dan politiknya. Tujuannya adalah memahami budaya dalam segala bentuk kompleksnya dan menganalisis konteks sosial dan politik tempat budaya tersebut berasal. Budaya dalam cultural studies menampilkan 2 fungsi, merupakan objek studi maupun lokasi tindakan dan kristisme politik. Cultural studies bertujuan baik sebagai usaha pragmatis maupun ideal. Cultural studies berupaya untuk mendobrak pengotak-ngotakan pengetahuan konvensional, berupaya mendamaikan dan mengatasi perpecahan antara bentuk pengetahuan yang tidak tersirat (pengetahuan intuitif berdasarkan budaya lokal) dan yang objektif (universal). Cultural studies mengasumsikan suatu identitas dan kepentingan bersama antara yang mengetahui dengan yang diketahui, antara pengamat dengan yang diamati. Cultural studies melibatkan diri dengan evaluasi moral masyarakat modern dengan garis radikal tindakan politik. Cultural studies bertujuan memahami dan mengubah struktur dominasi khususnya dalam masyarakat kapitalis industri.

Tokoh Cultural Studies

1.         Richard Hoggard (Dosen Sastra Inggris Universitas Birmingham) dengan karya terkenal The Uses of Literacy (1957)

2.         Raymond William (Dosen Ilmu Polotik dan Sastra Universitas Oxford) dengan karya terkenal Culture and Society (1958)  dan The Long Revolution (1961)

3.         E.P. Thompson (Wakil presiden The Campaign for Nuclear Disarmament) dengan karya terkenal The Making of the English Working Class (1978)

4.         Stuart Hall (Sosiolog Universitas Birmingham)

Cultural studies berupaya menganalisis praktik budaya guna membongkar praktik kuasa yang terkait dengan produksi makna. Dalam perkembangannya, cultural studies yang dibentuk sebagai disiplin kajian yang khas, memiliki karakter yang berbeda-beda pada setiap wilayah. Cultural studies Inggris merupakan asal mula terbentuknya cultural studies, dianggap sebagai disiplin yang sudah terlalu formal dan kaku, menuai berbagai kritik karena terlalu Anglosentris (mengukur segala sesuatu dari kacamata budaya Anglo-Saxon). Berbeda dengan cultural studies Amerika Serikat yang berpusat pada pemujaan terhadap budaya pop yang terlalu berlebihan. Cultural studies Prancis mengalami perkembangan yang sangat menarik di tengah pergolakan kelas dan revolusi sosial yang disebabkan oleh kedatangan para imigran. Cultural studies Prancis banyak membicarakan tentang “kesepian” kaum imigran di negara baru dan “kebingungan identitas” di tengah keberagaman Prancis yang menempatkan budayanya sebagai pusat budaya yang lebih superior. Cultural studies India mengangkat semangat perlawanan mengahadapi praktik kolonialisme maupun pascakolonialisme. Cultural studies Indonesia merupakan hasil asimilasi dari tradisi ilmiah yang sangat berbeda dengan keseharian Indonesia dengan mengacu pada kebudayaan negara asal, walaupun sebenarnya Indonesia mempunyai sumber-sumber budaya, sosial dan historis yang tidak kalah unik dibandingkan dengan negara lain.[8]

Cultural Studies sering disebut juga antidisiplin. Karena cultural studies ini secara bebas meminjam Beragam jenis disiplin ilmu di ranah soshum, baik berupa teori maupun metode. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa cultural studies ini tidak memiliki batasan yang jelas. Mengapa demikian? Karena cultural studies beranggapan apabila kita memandang satu fenimena dari satu sudut pandang keilmuan hal itu akan membatasi cara pandang kita. Alangkah baiknya kita mengkolaborasikan atau menggabungkan dari berbagai sudut pandang keilmuan

.

 



[1] Puji Hariyanti and Penjelasan Kontrak, ‘ا ا ا’, 2013, 1–18.

[2] Ditha Paramitha, ‘Fenomena Perilaku Remaja Broken Home Di SMA BPI Kota Bandung’, Universitas Pasundan, 2016, 52 <http://repository.unpas.ac.id/11586/5/BAB 2.pdf%0Ahttp://repository.unpas.ac.id/11586/>.

[3] B A B Ii, ‘Istilah Ini Bersumber Dari Perkataan’, 2005.

[4] B a B Ii and others, ‘Berasal Dari Kata Latin’, 1963, 2000, 8–51.

[5] Meirisha Asnita, ‘Teori SOR’, 2011, 21–34 <http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/28642/3/Chapter II.pdf>.

[6] B A B Ii and A Teori S-o-r, ‘Stimulus-Organism–Response’, 2009, 6–17.

[7] ‘I Maji’, Cultural Studies Teori Dan Praktik, 2009, 190–94 <https://media.neliti.com/media/publications/218276-cultural-studies-teori-dan-praktik.pdf>.

[8] Laura Christina Luzar and Monica Monica, ‘Penerapan Cultural Studies Dan Aliran Filsafat Dalam Desain Komunikasi Visual’, Humaniora, 5.2 (2014), 1295 <https://doi.org/10.21512/humaniora.v5i2.3272>.

Komentar